Mungkin aku tak tau bagaimana baiknya mencintaimu. Aku pun tak tau bagaimana semestinya ku ekspresikan rinduku agar tak mengusikmu, karna yang aku tau hanya bagaimana caranya agar aku bisa membahagiankanmu; semampuku. Tapi aku lupa tentang cinta yang tak sepenuhnya aku yang menjadi pemeran utamanya. Ada kau bersama hati juga berbagai pilihan hidupmu sendiri. Ya, termasuk bahagia dengan caramu yang tak sepenuhnya kupahami. Pada awalnya aku mengira membahagiakanmu adalah hal yang mudah. Semudah aku mengingatmu dalam ingatan, semudah aku menyebut namamu dalam do'a. Namun kenyataan aku tak bisa berhenti mencintaimu, membuatku semakin tak bisa mengerti seperti apa maumu, seperti apa bahagia yang kamu inginkan. Dengan seenak hati ku buat sendiri skenario, menyalahkanmu dalam pengorbanan yang menurut ukurku sudah begitu besar. Terus merasa terluka sebab kediaman mu. Ah, naif sekali aku. Bagaimana mungkin kupaksakan segalanya sesuai tolak ukurku. Jika kini akhirnya kau perlahan menjauhiku; kurasa wajar. Mana mungkin egoku kan mempertahankanmu ? Kalaupun kau bertahan, pasti nyata cinta yang tak sembarangan.
Cinta sebagaimana dulu, takkan lagi kupaksakan. Entah masihkah sama atau sudah berbeda. Bagiku ketulusan dan "saling" itu penting. Sepenting semua harapan asa kita di depan sebagaimana pernah kita rangkai dalam malam-malam yang larut; berdua. Sebagaimana cinta yang tumbuh tanpa alasan layaknya harapan yang ingin menjadi kenyataan.
Mungkin benar adanya aku tak mampu memberikan apa yang kau maksut kebahagiaan. Bahkan untuk membahagiakan diri sendiri aku sulit. Sesulit menyadari keadaan dimana kamu yang perlahan tapi pasti menjauh.
*****
Hanya kuminta satu kesempatan
Jika ku diberi, sekali itu cukup
Hanya sekali itu..
Untuk aku mendengarmu,
Untuk kamu mendengarku,
Agar kita saling mengerti,
saling memahami
Wahai Pemilik cinta...
Ajarkanlah aku,
Untuk membahagiakannya
Kuatkanlah aku,
Untuk selalu mempertahankannya
Sabarkanlah aku,
Untuk tetap tersenyum disampingnya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar