Sampai mana saya berpikir tentang
anda bermula dari mana saya mengenal anda…
Tepatnya 1 tahun yang lalu, 10
maret 2013. Sejauh mata memandang seisi ruang hanya anda yang saya lihat.
Pemandangan membuat saya tak berkedip bahkan nafas pun terhenti. Begitu mempesona
hampir mengalihkan perhatian saya. Waktu pun terasa berhenti, kehidupan terasa
berbeda. Semua rasanya tak seperti biasa, seperti itu kiranya pandangan
pertama. Hingga adzan dhuhur menjadi penghenti tatapan saya pada anda. Sesingkat
itu anda memenangkan hati saya.
Waktu bergulir sebagaimana
mestinya, semua terus berjalan seperti biasa. Namun tidak pada perasaan saya.
Ia terus tumbuh hari demi hari seiring seringnya anda muncul di depan saya. Apa
daya jika anda hanya bisa dilihat, hanya untuk dinikmati dari jauh sementara
senyum dan tawa anda sedang bersama yang lain.
Demi melupakan tentang anda, saya
mencoba mencari ‘sesuatu’ yang mungkin lebih indah dimana itu takkan lebih
buruk dari sikap seorang pengecut. Tapi nyatanya mata tetaplah mata, hati tetaplah
hati. Dimana keduanya adalah satu sistem yang mungkin takkan berbohong tentang
rasa. Semua tak bersinar secerah sinar anda.
 |
| sepotret kenangan |
Hingga hari dimana seseorang bak
malaikat memberi saya kesempatan merangkai kata untuk anda. Bukan hanya sekedar
bahagia namun diatas itu. Tak peduli sebanyak apa anda mengacuhkan saya, tak
peduli sehina apa saya dimata anda. Takkan ada henti untuk berharap, tak jua
saya lelah untuk berdoa setidaknya anda melihat ke arah saya. Bahwasanya benar
anda takkan akan bersinar untuk saya. Dan kembali saya mencoba bersinar dengan
bulan atau bintang lainnya tetap saja terasa gelap dan kelam. Saya berhenti.
Untuk kemudian 2 bulan berlalu,
bagai hujan menghempas debu, bagai pantai dihantam ombak, anda pergi. Anda pergi meninggalkan sepotret kenangan
manis di hari akhir masa putih-abuabu anda. Tenggelamlah sudah anda bersama
dengan harapan saya….
*****
Tidak ! Ini bukanlah akhir.
Luasnya laut menjauhkan, tingginya gunung memisahkan. Tapi lihatlah langit,
maka saya masih merasa dekat dengan anda. Sementara di bagian timur negri ini
anda bernapas. Menghirup harapan menghempaskan doa di kehidupan anda sendiri. Saya
pun begitu disini di bawah langit yang sama dengan anda takkan merasa sepi.
Oleh karena puluhan rangkaian kata yang anda kirimkan mampu menghidupkan jiwa
yang hampir punah. Lebih dari pengaharapan, seperti musim kemarau yang rindu
datangnya hujan dan malam yang rindukan pagi. Bisakah anda datang kembali ?
Adakah kiranya harapan seseorang
di awal tahun ? Kesuksesan, kebahagiaan, keberuntungan ? Tentu mereka semua
berharap untuk itu di hari dimana tahun berganti. Begitu pula dengan saya. Tak
lupa saya memanjatkan harapan untuk anda kembali. Beruntungnya di tanggal
berapa tepatnya saya tidak tahu. Entah laut mana yang menghantarkan, entah
angin apa yang mengirimkan anda. Seolah menjadi jawaban atas doa saya di
pergantian tahun. Terasa semakin dekat saat saya menyadari bahwa bulan dan
bintang menyinari saya dan anda sedekat dulu lagi.
Tepat di tanggal 07 Januari 2014,
Bunga merekah, matahari cerah,
angin berhembus mesrah. Bak laut yang surut dan gunung yang menyusut. Jarak
bukan lagi penghalang. Saya melihat anda. Ah, bukan. Bukan sekedar melihat
bahkan anda ada disamping saya. Mimpi ? Tidak, ini bukan mimpi. Ini sungguh
terjadi ditempat yang sama. Sekali lagi tempat ini menjadi saksi, pertemuan
pertama saat saya tak mengenal anda sekaligus pertemuan pertama saat anda
datang kembali dari tanah perantauan. Serasa air mata ingin tumpah sementara
senyum terus tercurah. Lebih apapun yang anda tahu, ini surga dunia bagi saya.
Penebus rasa rindu ini cukup adil bagi saya meski nampaknya waktu terasa tidak
adil. Ia menggelincirkan jarum detiknya lebih cepat dan segera menghentikan
kebahagiaan yang sungguh masih ingin saya rasakan.
Pagi berganti malam, lalu pagi
kembali dating memperdengarkan saya tentang anda yang takkan kembali ke bumi
perantauan. Sekali lagi jika itu kabar bahagia saya tak perlu tau alasannya.
Yang pasti, saat saya tau anda disini, semua akan baik- baik saja.
 |
| kata yang anda kirim |
Seandainya anda juga ingat hal
ini, 08 Januari 2014. Saya merekam, saya mengingat dengan baik setiap kata yang
anda kirimkan. Bukan janji tapi harapan. Tentang sesuatu hal yang mungkin
istimewa. Sesuatu yang akan anda bicarakan dengan saya setelah anda sukses.
Sungguh saya tak mengerti, tapi entah mengapa rasanya menenangkan.
Semua masih berjalan manis. Belum
lagi tentang banyaknya rencana yang anda janjikan. Tak ada yang lebih sempurna
dari rahmat-Nya, tak ada yang lebih kuasa dari kuasa-Nya. Dia kembali membawa
saya bertemu dengan anda. Canda, tawa, cerita, suka membawa senyum semakin
tercuah. Hanya kali ini 2 parkit kecil yang menjadi saksi hadirnya anda di
rumah saya. Sekali lagi saya katakan, waktu selalu terlalu iri pada
kebahagiaan. Saya pikir saya akan banyak merasakan hal yang sama dengan tanggal
ini, 18 Januari 2014.
Namun nyatanya kisah bahagia
tidak selalu bahagia, bahkan dongeng sang putri dan pangeran kerajaan pun juga
bercerita bahwa mereka juga harus melewati masa sulit untuk bahagia. Begitu
pula dengan saya dan anda yang lambat laun mulai menemui titik dimana kesibukan
membawa jarak yang saya dan anda cipatakan sendiri. Mungkin benar yang anda katakan
tentang kesalahan ini saya lah biangnya. Berkali menolak, berulang menghindar.
Bukan, bukan karna saya tak ingin, bahkan terlalu ingin ! Andai anda tau alasan
saya menghindar, bahwasanya karena saya
terlalu bahagia hingga tak mampu menatap anda, tak mampu menunjukkan
betapa saya bahagia. Saya takut anda tau sebanyak apa saya menyukai anda,
berharap pada anda sementara hanya saya yang merasakannya. Saya takut sesering
saya melihat anda, semakin menumbuhkan perasaan saya yang bahkan saya tau anda
tak mungkin membalasnya. Saya takut semua yang terjadi pada saya dan anda hanya
kebahagiaan sepihak. Karena itu saya menyadari siapa saya dan meminta anda
menyukai saya adalah suatu kesalahan.
 |
buku anda yang hingga kini masih
saya simpan |
Apalah arti semua kata yang anda
kirim bila semua berakhir seperti ini ?
Apakah saya yang salah menilai
bahwa anda berbeda ?
Jika saya harus memilih, saya
lebih baik sakit hati daripada sendiri tanpa harapan. Karena dengan adanya
harapan, saya merasa hidup, saya mengerti untuk apa saya menangis dan untuk apa
saya bahagia. Dan bila harapan itu tiada lagi, bagai burung tanpa sayap bagai
bunga tak berkelopak, saya hancur. Hanya bisa memandang sejauh apa yang bisa
saya pandang tanpa bisa benar- benar memiliki.
Jika benar semua kisah seperti
dongeng putri dan pangeran kerajaan yang akan melalui masa sulit terlebih dahulu. Jika
benar semua kisah akan berakhir bahagia, saya rela bila harus menanggung luka
selama apapun itu asal saya masih memiliki harapan untuk bahagia-bersama anda.
Jika anda yang mengajarkan tentang pengharapan pada saya, salahkah jika kini saya juga berharap pada anda ?