Senin, 08 Juni 2015

Apa kabar RINDU

Hari senin di minggu keempat...

Hai, apa kabar rindu?
Masihkah kau ada disana?
Atau mungkinkah kau sudah mulai lelah?

Tidak...
Aku masih di tempat ini
Berteman sepi, berkawan sendiri
Tak pernah letih menghitung hari yang berganti
Dan berharap waktu segera membawamu cepat kembali

Tenanglah ...
Bahwa semua tak ada yang berbeda
Hanya saja rindu ini semakin bertambah
Namun sekali lagi, apalah daya apalah upaya
Ketika jarak seakan cemburu melihat kita bersama

Ketahuilah...
Bahwa pernah sekali ku coba tak perdulikanmu
Saat itu pula setengah mati ku menahan pilu
Seandainya saja kau tau sedikit tentang rindu
Masih sudikah kau acuhkan ku?

Aku..
Masih terus memahami, walau berkali gagal lagi
Masih mencoba mengerti, walau akhirnya tetap tersakiti

Kamu...
Masih tetap kurindu, walau sedikitpun kau tak mau tau
Masih tetap kutunggu, walau sedetikpun kau tak hiraukanku

Senin, 16 Februari 2015

Cintaku di Cinta 2 Hati

Selamat malam wahai para pemuja rahasia yang tak pernah lelah mengharap cintanya. Selamat malam para pejuang cinta, yang tak pernah letih mencari belahan hatinya. Selamat malam pada pemilik hati yang tak henti berdoa pada Sang Kuasa mempertahankan kasihnya.

Selamat malam juga untukku...

Yang tengah duduk terdiam di kesunyian malam.
Menatap langit yang seolah enggan berbicara.
Entah mengapa ia diam membisu seribu bahasa.
Seakan akan ia juga rasa apa yang kurasa.

Dibawah hamparan gelap luas yang bertabur bintang.
Menatap satu bintang yang paling terang dengan penuh harapan.
Bagai sepasang mata tengah melihat cintanya,
Yang kini menjauh seakan ingin menghilang..

Haruskah air mata ini mengalir setiap waktu?
Haruskah kuhentikan detak jantungku untuk merindukanmu?
Haruskah kulenyapkan denyut nadiku demi memilikimu?
Dan haruskah nyawa ini terpisah dari ragaku karena cintamu?

Diri ini seperti kehilangan kaki
Tak mau beranjak pergi,
Tak ingin diajak berlari,
Karna tak tau lagi dimana letak hati

Mati rasaku,
Remuk jiwaku,
Terhempas sudah cintaku,
Tersandung cerita di masa lalumu.

Aku dan senyumku, berdua meronta.
Hanya bisa membaca aksara yang kau rangkai penuh makna.
Aku dan penantianku, bersama berdoa.
Namun hanya bisa mengenangmu dalam duka.

Tak seperti malam, di malam kemarin. Ketika senyum dan tawa selalu menjadi bagian dari cerita. Saat sejuta mimpi, angan serta harapan dipadu menjadi satu. Tentang ku dan tentangmu; tanpa tentangnya.

Kepadamu wahai pemilik hatiku, yang kini terombang ambing cintanya. Yang tengah bergemelut hatinya. Setidaknya kau dengar sedikit bisik cintaku, sedikit rintihan tangisku. Mengharapkanmu, datang padaku. Memeluk hatiku merangkul kasihku. Lagi.

Selasa, 18 Maret 2014

Kasih Tak Sampaiku

Ibarat elang yang terluka ...
akupun sama tak berdayanya denganmu
tak mampu kukepakkan sayap ini
apalagi mengarungi luasnya angkasa bersamamu,

Tertatih ku coba menggapaimu..
Berharap bisa merengkuhmu dalam peraduan hati
Tapi... dinding itu begitu tingginya membatasi

Terlalu jauh dari kuasaku untuk mewujudkannya
Hanya bisa mempersembahkan hatiku
Meski hanya jiwa
Dan jika aku mampu...
Ijinkanlah kubasuh luka yang ada dihatimu

Aku bahkan bukan wanita kuat seperti yang terlihat
Aku juga bukan wanita tegar yang nampak diluar
Aku pun bukan wanita ceria nan bahagia,
Tanpamu ..

Meski aku selalu mencoba menjadi yang terbaik untukmu
Berharap untuk memenangkan hatimu
Namun semuanya terasa sia- sia

Aku hanyalah setitik air
Yang tak terlihat di hamparan laut
Tergulung oleh tingginya ombak

Dan akulah malam tanpa mimpi
Saat kedua mata memejam tak berarti
Mengharapkan kau hadir disini
Membangunkan aku dari luka hati

Seandainya bisa...
Ingin ku genggam tanganmu walau hanya dalam angan
Rasakan...
Betapa kuingin menjadi yang paling berarti dalam hidupmu

Namun cinta yang ku harapkan
Hanya mampu terucapkan
Tanpa bisa aku perjuangankan
Pintu hatimu tak mengijinkan

Maafkan aku telah lancang menyayangimu. Telah menjatuhkan dirimu dalam palung rinduku. Menenggelamkan dirimu dalam cinta dan sayangku...

Senin, 10 Maret 2014

TENTANG PENGHARAPAN (?)

Sampai mana saya berpikir tentang anda bermula dari mana saya mengenal anda…

Tepatnya 1 tahun yang lalu, 10 maret 2013. Sejauh mata memandang seisi ruang hanya anda yang saya lihat. Pemandangan membuat saya tak berkedip bahkan nafas pun terhenti. Begitu mempesona hampir mengalihkan perhatian saya. Waktu pun terasa berhenti, kehidupan terasa berbeda. Semua rasanya tak seperti biasa, seperti itu kiranya pandangan pertama. Hingga adzan dhuhur menjadi penghenti tatapan saya pada anda. Sesingkat itu anda memenangkan hati saya.
Waktu bergulir sebagaimana mestinya, semua terus berjalan seperti biasa. Namun tidak pada perasaan saya. Ia terus tumbuh hari demi hari seiring seringnya anda muncul di depan saya. Apa daya jika anda hanya bisa dilihat, hanya untuk dinikmati dari jauh sementara senyum dan tawa anda sedang bersama yang lain.
Demi melupakan tentang anda, saya mencoba mencari ‘sesuatu’ yang mungkin lebih indah dimana itu takkan lebih buruk dari sikap seorang pengecut. Tapi nyatanya mata tetaplah mata, hati tetaplah hati. Dimana keduanya adalah satu sistem yang mungkin takkan berbohong tentang rasa. Semua tak bersinar secerah sinar anda.
sepotret kenangan
Hingga hari dimana seseorang bak malaikat memberi saya kesempatan merangkai kata untuk anda. Bukan hanya sekedar bahagia namun diatas itu. Tak peduli sebanyak apa anda mengacuhkan saya, tak peduli sehina apa saya dimata anda. Takkan ada henti untuk berharap, tak jua saya lelah untuk berdoa setidaknya anda melihat ke arah saya. Bahwasanya benar anda takkan akan bersinar untuk saya. Dan kembali saya mencoba bersinar dengan bulan atau bintang lainnya tetap saja terasa gelap dan kelam. Saya berhenti.
Untuk kemudian 2 bulan berlalu, bagai hujan menghempas debu, bagai pantai dihantam ombak, anda pergi.  Anda pergi meninggalkan sepotret kenangan manis di hari akhir masa putih-abuabu anda. Tenggelamlah sudah anda bersama dengan harapan saya….

*****

Tidak ! Ini bukanlah akhir. Luasnya laut menjauhkan, tingginya gunung memisahkan. Tapi lihatlah langit, maka saya masih merasa dekat dengan anda. Sementara di bagian timur negri ini anda bernapas. Menghirup harapan menghempaskan doa di kehidupan anda sendiri. Saya pun begitu disini di bawah langit yang sama dengan anda takkan merasa sepi. Oleh karena puluhan rangkaian kata yang anda kirimkan mampu menghidupkan jiwa yang hampir punah. Lebih dari pengaharapan, seperti musim kemarau yang rindu datangnya hujan dan malam yang rindukan pagi. Bisakah anda datang kembali ?

Adakah kiranya harapan seseorang di awal tahun ? Kesuksesan, kebahagiaan, keberuntungan ? Tentu mereka semua berharap untuk itu di hari dimana tahun berganti. Begitu pula dengan saya. Tak lupa saya memanjatkan harapan untuk anda kembali. Beruntungnya di tanggal berapa tepatnya saya tidak tahu. Entah laut mana yang menghantarkan, entah angin apa yang mengirimkan anda. Seolah menjadi jawaban atas doa saya di pergantian tahun. Terasa semakin dekat saat saya menyadari bahwa bulan dan bintang menyinari saya dan anda sedekat dulu lagi.


Tepat di tanggal 07 Januari 2014,
Bunga merekah, matahari cerah, angin berhembus mesrah. Bak laut yang surut dan gunung yang menyusut. Jarak bukan lagi penghalang. Saya melihat anda. Ah, bukan. Bukan sekedar melihat bahkan anda ada disamping saya. Mimpi ? Tidak, ini bukan mimpi. Ini sungguh terjadi ditempat yang sama. Sekali lagi tempat ini menjadi saksi, pertemuan pertama saat saya tak mengenal anda sekaligus pertemuan pertama saat anda datang kembali dari tanah perantauan. Serasa air mata ingin tumpah sementara senyum terus tercurah. Lebih apapun yang anda tahu, ini surga dunia bagi saya. Penebus rasa rindu ini cukup adil bagi saya meski nampaknya waktu terasa tidak adil. Ia menggelincirkan jarum detiknya lebih cepat dan segera menghentikan kebahagiaan yang sungguh masih ingin saya rasakan.

Pagi berganti malam, lalu pagi kembali dating memperdengarkan saya tentang anda yang takkan kembali ke bumi perantauan. Sekali lagi jika itu kabar bahagia saya tak perlu tau alasannya. Yang pasti, saat saya tau anda disini, semua akan baik- baik saja.

kata yang anda kirim
Seandainya anda juga ingat hal ini, 08 Januari 2014. Saya merekam, saya mengingat dengan baik setiap kata yang anda kirimkan. Bukan janji tapi harapan. Tentang sesuatu hal yang mungkin istimewa. Sesuatu yang akan anda bicarakan dengan saya setelah anda sukses. Sungguh saya tak mengerti, tapi entah mengapa rasanya menenangkan.

Semua masih berjalan manis. Belum lagi tentang banyaknya rencana yang anda janjikan. Tak ada yang lebih sempurna dari rahmat-Nya, tak ada yang lebih kuasa dari kuasa-Nya. Dia kembali membawa saya bertemu dengan anda. Canda, tawa, cerita, suka membawa senyum semakin tercuah. Hanya kali ini 2 parkit kecil yang menjadi saksi hadirnya anda di rumah saya. Sekali lagi saya katakan, waktu selalu terlalu iri pada kebahagiaan. Saya pikir saya akan banyak merasakan hal yang sama dengan tanggal ini, 18 Januari 2014.


Namun nyatanya kisah bahagia tidak selalu bahagia, bahkan dongeng sang putri dan pangeran kerajaan pun juga bercerita bahwa mereka juga harus melewati masa sulit untuk bahagia. Begitu pula dengan saya dan anda yang lambat laun mulai menemui titik dimana kesibukan membawa jarak yang saya dan anda cipatakan sendiri. Mungkin benar yang anda katakan tentang kesalahan ini saya lah biangnya. Berkali menolak, berulang menghindar. Bukan, bukan karna saya tak ingin, bahkan terlalu ingin ! Andai anda tau alasan saya menghindar, bahwasanya karena saya  terlalu bahagia hingga tak mampu menatap anda, tak mampu menunjukkan betapa saya bahagia. Saya takut anda tau sebanyak apa saya menyukai anda, berharap pada anda sementara hanya saya yang merasakannya. Saya takut sesering saya melihat anda, semakin menumbuhkan perasaan saya yang bahkan saya tau anda tak mungkin membalasnya. Saya takut semua yang terjadi pada saya dan anda hanya kebahagiaan sepihak. Karena itu saya menyadari siapa saya dan meminta anda menyukai saya adalah suatu kesalahan.

buku anda yang hingga kini masih
saya simpan
Apalah arti semua kata yang anda kirim bila semua berakhir seperti ini ?
Apakah saya yang salah menilai bahwa anda berbeda ?

Jika saya harus memilih, saya lebih baik sakit hati daripada sendiri tanpa harapan. Karena dengan adanya harapan, saya merasa hidup, saya mengerti untuk apa saya menangis dan untuk apa saya bahagia. Dan bila harapan itu tiada lagi, bagai burung tanpa sayap bagai bunga tak berkelopak, saya hancur. Hanya bisa memandang sejauh apa yang bisa saya pandang tanpa bisa benar- benar memiliki.


Jika benar semua kisah seperti dongeng putri dan pangeran kerajaan yang akan melalui masa sulit terlebih dahulu. Jika benar semua kisah akan berakhir bahagia, saya rela bila harus menanggung luka selama apapun itu asal saya masih memiliki harapan untuk bahagia-bersama anda.

Jika anda yang mengajarkan tentang pengharapan pada saya, salahkah jika kini saya juga berharap pada anda ?

Sabtu, 01 Februari 2014

PARA PENJAJAH ERA REFORMASI

“Prit jumprit dandang kepedang, dino kecepit njaluk dipedang…”
“Cublek-cublek suweng, suweng e ting gelenter mambu ketundung gudel tak gempo lila lilo sopo ngguyu dhelik ake sir sir pong dhelik kopong, sir sir pong dhelik kopong.. ”


Pernahkah anda mendengar lagu permainan anak- anak yang seperti itu ?
Apa yang anda pikirkan jika saya melantunkan lagu itu kembali ?
Mungkinkah yang terlintas di benak saya sama seperti anda ?

Sesuatu yang muncul dalam benak saya ketika mendengar lagu tersebut adalah permainan tradisional. Ketika dulu, anak-anak begitu akrab dengan berbagai permainan tradisional semacam petak umpet, gobak sodor ataupun congklak. Permainan sederhana yang murah meriah dan banyak gunanya. Namun sekarang, anak-anak justru lebih senang menghabiskan waktu bermain Angry Birds, Point Blank dan semacamnya di depan komputer, smartphone atau tablet. Sepintas memang terlihat tidak begitu mengkhawatirkan dan para orang tua juga merasa lebih senang karena jika anak- anak mereka tidak bermain yang berbahaya atau membuat baju jadi kotor. Padahal dengan membiarkan anak-anak tenggelam dalam permainan yang berbau teknologi tersebut justru yang akan merusak mental & perkembangan jiwa mereka. Sehingga akan tumbuh menjadi seorang yang egois serta individualis dan enggan bekerja keras karena sudah terpola berpikir praktis. Dengan kata lain, mereka bisa bermain sendiri tanpa harus mencari teman seperti halnya permainan tradisional yang membutuhkan beberapa pemain (2 atau lebih pemain). Padahal permainan tradisional itu sendiri dapat memperkenalkan mereka tentang sistem sosial reward and punishment. Yang berarti, bila mereka kalah harus siap menerima hukuman, dan bila menang barulah terbebas dari hukuman itu. Dengan begitu mereka akan terbiasa mengikuti rute yang ada dan mental sportif pun dapat terbentuk dengan baik.

Dalam penelitian yang saya lakukan, menurut 7 dari 10 anak- anak kecil jaman sekarang yang hidup di masa penjajahan ilmu dan teknologi, mereka lebih tertarik untuk bermain game online di warnet daripada berkumpul bersama teman sebaya di sebuah lapangan untuk sekedar bermain petak umpet atau gobak sodor. Alasan mereka pun bermacam-macam. Beberapa dari mereka malas bermain panas-panasan dilapangan dan beberapa lainnya takut di ejek karena takut dibilang ‘kudet’ oleh teman-temannya jika ia tak bermain game online. Tapi 3 orang sisanya menyatakan bahwa ia dan sebagian kecil teman-temannya di sekolah masih memainkan permainan tradisional seperti petak umpet, lompat tali, bahkan cublek-cublek suweng dan sejenisnya. Jadi hingga kini sesungguhnya permainan tradisional itu belum mati, hanya saja perlu digalakkkan serta ditumbuh kembangkan kembali dengan memberi fasilitas dan wadah yang memadai. Lapangan yang luas, misalnya.

Namun faktanya yang terjadi, sekarang malah banyak dari orangtua -terutama yang sibuk bekerja- lebih memilih menyediakan fasilitas internet tanpa pengawasan atau sekedar fasilitas playstasion dibanding memperkenalkan permainan tradisional pada diri anak. Atau tak jarang orangtua yang terlalu khawatir jika anaknya bermain panas-panasan atau kotor-kotoran, sehingga mereka berfikir lebih aman jika menyediakan fasilitas bermain elektronik untuk anak mereka.

Fakta konkret lainnya mari tilik lebih dalam tentang ketersediaan lapangan bagi anak- anak untuk bermain yang kini telah berubah menjadi landasan aspal, paving dan beton. Bertumbuhnya lahan pemukiman penduduk yang mengakibatkan hilangnya sawah juga minimnya lahan kosong. Tentu saja ini adalah keuntungan sepihak bagi developer dan pemerintah yang menerima pajak bumi sebagai kompensasinya. Jikalau ada lahan dalam perumahan, itupun takkan mencukupi untuk kuota penduduk dalam perumahan itu sendiri. Sebagai akibatnya anak- anak kecil pun beralih bermain di gang gang. Namun pada akhirnya mereka tetap diusir karena banyak warga lain yang terganggu karena berisik, merusak tanaman, mengotori rumah dan sebagainya. Miris memang apabila kita harus mengutip tentang hak hak anak yang diatur di pasal 4 Undang Undang No. 23 tahun 2002 “setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh dan berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan hakrat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”


Jika seperti ini siapa yang bisa disalahkan ?

"Saya bukan bagian dari pejuang permainan tradisional anak- anak, tapi saya hanya bagian dari anak- anak yang ingin diperjuangkan kembali permainan tradisionalnya..."

Sabtu, 30 November 2013

Akhir Cerita Si Kancil

Matamu tajam penuh ketenangan,
tapi sayang bukan untuk menatapku
Suara mu merdu nan menyejukkan,
tapi sayang tidak untuk memanggilku
Senyummu indah mendamaikan,
tapi sayang itu juga bukan untukku.

Angin mengajarkan tentang rasa
Ia tak sepenuhnya harus berdua
Tak selamanya ia akan bersama
Jika memang bahagia bukanlah takdirnya

Hujan pun menyadarkan tentang cinta
Yang tak hanya aku sebagai pemeran
Ada kamu dengan hatimu yang ikut berperan
Namun nyatanya cerita indah memang bukanlah akhirnya 

Bagai pohon tanpa dahan
Bagai daun kekeringan tanpa hujan
Kosong tiada dan hampa
Itulah pada akhirnya
Menyesal dengan kisah
Itulah perasaannya
Pedih mencekam penuh luka
Itulah rasanya
Tiada cahaya tanpa suara
Itulah akhir dari pengharapannya
 Maka si kancil pun kembali pergi. Tanpa harapan lagi. Membawa luka dan pedih seorang diri. Ketika doa serta asa untuk sang elang takkan pernah bersua.