Senin, 10 Maret 2014

TENTANG PENGHARAPAN (?)

Sampai mana saya berpikir tentang anda bermula dari mana saya mengenal anda…

Tepatnya 1 tahun yang lalu, 10 maret 2013. Sejauh mata memandang seisi ruang hanya anda yang saya lihat. Pemandangan membuat saya tak berkedip bahkan nafas pun terhenti. Begitu mempesona hampir mengalihkan perhatian saya. Waktu pun terasa berhenti, kehidupan terasa berbeda. Semua rasanya tak seperti biasa, seperti itu kiranya pandangan pertama. Hingga adzan dhuhur menjadi penghenti tatapan saya pada anda. Sesingkat itu anda memenangkan hati saya.
Waktu bergulir sebagaimana mestinya, semua terus berjalan seperti biasa. Namun tidak pada perasaan saya. Ia terus tumbuh hari demi hari seiring seringnya anda muncul di depan saya. Apa daya jika anda hanya bisa dilihat, hanya untuk dinikmati dari jauh sementara senyum dan tawa anda sedang bersama yang lain.
Demi melupakan tentang anda, saya mencoba mencari ‘sesuatu’ yang mungkin lebih indah dimana itu takkan lebih buruk dari sikap seorang pengecut. Tapi nyatanya mata tetaplah mata, hati tetaplah hati. Dimana keduanya adalah satu sistem yang mungkin takkan berbohong tentang rasa. Semua tak bersinar secerah sinar anda.
sepotret kenangan
Hingga hari dimana seseorang bak malaikat memberi saya kesempatan merangkai kata untuk anda. Bukan hanya sekedar bahagia namun diatas itu. Tak peduli sebanyak apa anda mengacuhkan saya, tak peduli sehina apa saya dimata anda. Takkan ada henti untuk berharap, tak jua saya lelah untuk berdoa setidaknya anda melihat ke arah saya. Bahwasanya benar anda takkan akan bersinar untuk saya. Dan kembali saya mencoba bersinar dengan bulan atau bintang lainnya tetap saja terasa gelap dan kelam. Saya berhenti.
Untuk kemudian 2 bulan berlalu, bagai hujan menghempas debu, bagai pantai dihantam ombak, anda pergi.  Anda pergi meninggalkan sepotret kenangan manis di hari akhir masa putih-abuabu anda. Tenggelamlah sudah anda bersama dengan harapan saya….

*****

Tidak ! Ini bukanlah akhir. Luasnya laut menjauhkan, tingginya gunung memisahkan. Tapi lihatlah langit, maka saya masih merasa dekat dengan anda. Sementara di bagian timur negri ini anda bernapas. Menghirup harapan menghempaskan doa di kehidupan anda sendiri. Saya pun begitu disini di bawah langit yang sama dengan anda takkan merasa sepi. Oleh karena puluhan rangkaian kata yang anda kirimkan mampu menghidupkan jiwa yang hampir punah. Lebih dari pengaharapan, seperti musim kemarau yang rindu datangnya hujan dan malam yang rindukan pagi. Bisakah anda datang kembali ?

Adakah kiranya harapan seseorang di awal tahun ? Kesuksesan, kebahagiaan, keberuntungan ? Tentu mereka semua berharap untuk itu di hari dimana tahun berganti. Begitu pula dengan saya. Tak lupa saya memanjatkan harapan untuk anda kembali. Beruntungnya di tanggal berapa tepatnya saya tidak tahu. Entah laut mana yang menghantarkan, entah angin apa yang mengirimkan anda. Seolah menjadi jawaban atas doa saya di pergantian tahun. Terasa semakin dekat saat saya menyadari bahwa bulan dan bintang menyinari saya dan anda sedekat dulu lagi.


Tepat di tanggal 07 Januari 2014,
Bunga merekah, matahari cerah, angin berhembus mesrah. Bak laut yang surut dan gunung yang menyusut. Jarak bukan lagi penghalang. Saya melihat anda. Ah, bukan. Bukan sekedar melihat bahkan anda ada disamping saya. Mimpi ? Tidak, ini bukan mimpi. Ini sungguh terjadi ditempat yang sama. Sekali lagi tempat ini menjadi saksi, pertemuan pertama saat saya tak mengenal anda sekaligus pertemuan pertama saat anda datang kembali dari tanah perantauan. Serasa air mata ingin tumpah sementara senyum terus tercurah. Lebih apapun yang anda tahu, ini surga dunia bagi saya. Penebus rasa rindu ini cukup adil bagi saya meski nampaknya waktu terasa tidak adil. Ia menggelincirkan jarum detiknya lebih cepat dan segera menghentikan kebahagiaan yang sungguh masih ingin saya rasakan.

Pagi berganti malam, lalu pagi kembali dating memperdengarkan saya tentang anda yang takkan kembali ke bumi perantauan. Sekali lagi jika itu kabar bahagia saya tak perlu tau alasannya. Yang pasti, saat saya tau anda disini, semua akan baik- baik saja.

kata yang anda kirim
Seandainya anda juga ingat hal ini, 08 Januari 2014. Saya merekam, saya mengingat dengan baik setiap kata yang anda kirimkan. Bukan janji tapi harapan. Tentang sesuatu hal yang mungkin istimewa. Sesuatu yang akan anda bicarakan dengan saya setelah anda sukses. Sungguh saya tak mengerti, tapi entah mengapa rasanya menenangkan.

Semua masih berjalan manis. Belum lagi tentang banyaknya rencana yang anda janjikan. Tak ada yang lebih sempurna dari rahmat-Nya, tak ada yang lebih kuasa dari kuasa-Nya. Dia kembali membawa saya bertemu dengan anda. Canda, tawa, cerita, suka membawa senyum semakin tercuah. Hanya kali ini 2 parkit kecil yang menjadi saksi hadirnya anda di rumah saya. Sekali lagi saya katakan, waktu selalu terlalu iri pada kebahagiaan. Saya pikir saya akan banyak merasakan hal yang sama dengan tanggal ini, 18 Januari 2014.


Namun nyatanya kisah bahagia tidak selalu bahagia, bahkan dongeng sang putri dan pangeran kerajaan pun juga bercerita bahwa mereka juga harus melewati masa sulit untuk bahagia. Begitu pula dengan saya dan anda yang lambat laun mulai menemui titik dimana kesibukan membawa jarak yang saya dan anda cipatakan sendiri. Mungkin benar yang anda katakan tentang kesalahan ini saya lah biangnya. Berkali menolak, berulang menghindar. Bukan, bukan karna saya tak ingin, bahkan terlalu ingin ! Andai anda tau alasan saya menghindar, bahwasanya karena saya  terlalu bahagia hingga tak mampu menatap anda, tak mampu menunjukkan betapa saya bahagia. Saya takut anda tau sebanyak apa saya menyukai anda, berharap pada anda sementara hanya saya yang merasakannya. Saya takut sesering saya melihat anda, semakin menumbuhkan perasaan saya yang bahkan saya tau anda tak mungkin membalasnya. Saya takut semua yang terjadi pada saya dan anda hanya kebahagiaan sepihak. Karena itu saya menyadari siapa saya dan meminta anda menyukai saya adalah suatu kesalahan.

buku anda yang hingga kini masih
saya simpan
Apalah arti semua kata yang anda kirim bila semua berakhir seperti ini ?
Apakah saya yang salah menilai bahwa anda berbeda ?

Jika saya harus memilih, saya lebih baik sakit hati daripada sendiri tanpa harapan. Karena dengan adanya harapan, saya merasa hidup, saya mengerti untuk apa saya menangis dan untuk apa saya bahagia. Dan bila harapan itu tiada lagi, bagai burung tanpa sayap bagai bunga tak berkelopak, saya hancur. Hanya bisa memandang sejauh apa yang bisa saya pandang tanpa bisa benar- benar memiliki.


Jika benar semua kisah seperti dongeng putri dan pangeran kerajaan yang akan melalui masa sulit terlebih dahulu. Jika benar semua kisah akan berakhir bahagia, saya rela bila harus menanggung luka selama apapun itu asal saya masih memiliki harapan untuk bahagia-bersama anda.

Jika anda yang mengajarkan tentang pengharapan pada saya, salahkah jika kini saya juga berharap pada anda ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar