Sabtu, 30 November 2013

Akhir Cerita Si Kancil

Matamu tajam penuh ketenangan,
tapi sayang bukan untuk menatapku
Suara mu merdu nan menyejukkan,
tapi sayang tidak untuk memanggilku
Senyummu indah mendamaikan,
tapi sayang itu juga bukan untukku.

Angin mengajarkan tentang rasa
Ia tak sepenuhnya harus berdua
Tak selamanya ia akan bersama
Jika memang bahagia bukanlah takdirnya

Hujan pun menyadarkan tentang cinta
Yang tak hanya aku sebagai pemeran
Ada kamu dengan hatimu yang ikut berperan
Namun nyatanya cerita indah memang bukanlah akhirnya 

Bagai pohon tanpa dahan
Bagai daun kekeringan tanpa hujan
Kosong tiada dan hampa
Itulah pada akhirnya
Menyesal dengan kisah
Itulah perasaannya
Pedih mencekam penuh luka
Itulah rasanya
Tiada cahaya tanpa suara
Itulah akhir dari pengharapannya
 Maka si kancil pun kembali pergi. Tanpa harapan lagi. Membawa luka dan pedih seorang diri. Ketika doa serta asa untuk sang elang takkan pernah bersua.

Sabtu, 23 November 2013

Puisi Untuk Elang

Rasa ini mendesakku agar tak terbujuk oleh hadirmu
Namun ketenangan yg muncul ketika tajam matamu menatapku
Hatiku goyah,
Hatiku runtuh,
Hatiku luluh akan pesonamu

Akankah kau dengar bisikku yang slalu menyebut namamu ?
Mungkinkah kau tau betapa banyak aku mengukir namamu ?
Mampukah derik ranting membujukmu menoleh padaku ?
Bisakah semilir angin merajukmu untuk melihat ke arahku ?

Disini..
Di dadaku tersimpan harapan
Di hatiku bersemayam keinginan
Namun bagaimana aku menyatakan,
Jika setiap menatapmu aku kelu,
Aku bisu, aku gagap

Ya.. inilah aku
Yang diam- diam memperhatikan matamu
Yang diam- diam menatap paruhmu
Yang diam- diam melihat sayapmu
Dan hanya bisa menghitung hari- hari sendu
Tuk sekedar mengharapkanmu berbalik melihatku

Akulah kancil yang slalu bersembunyi dibalik semak
Berharap elang terbang disampingnya
Atau bahkan hinggap di dahan dekat tempatnya
Beriringan..
Namun apa daya si kancil tercipta untuk kelamahan
Dan sang elang tercipta untuk kekuatan
Beginilah adanya perbedaan
Alam terlalu jauh memisahkan

Demi keagunganmu...
Biarlah matahari yang sinari pagimu
Biarlah angin yang temani perjalanan hidupmu
Dan biarlah bintang yang menjaga istirahatmu

Demi keperkasaanmu...
Biarlah si kancil bersembunyi
Biarlah si kancil berteman sepi
Dan biarlah hanya menghujat doa dalam hati

Tatap mata menghujam, menyelidik, menerawang
Beradu pandang dengan rumitnya kehidupan
Kepak sayap keras, kokoh, menggelegar
Menantang setiap jiwa lemah untuk kembali tegar
Cengkraman erat, kuat, mencekam
Menarik setiap hati tuk bangkit dari masa yang suram

"Kepakkan sayapmu, tajamkan matamu, acungkan paruhmu, kuatkan cengkramanmu. Lawan setiap badai yang datang, lewati setiap aral yang melintang. Aku bangga padamu. Kamulah Elangku."


Dari kancil untuk elang