Namun ketenangan yg muncul ketika tajam matamu menatapku
Hatiku goyah,
Hatiku runtuh,
Hatiku luluh akan pesonamu
Akankah kau dengar bisikku yang slalu menyebut namamu ?
Mungkinkah kau tau betapa banyak aku mengukir namamu ?
Mampukah derik ranting membujukmu menoleh padaku ?
Bisakah semilir angin merajukmu untuk melihat ke arahku ?
Disini..
Di dadaku tersimpan harapan
Di hatiku bersemayam keinginan
Namun bagaimana aku menyatakan,
Jika setiap menatapmu aku kelu,
Aku bisu, aku gagap
Ya.. inilah aku
Yang diam- diam memperhatikan matamu
Yang diam- diam menatap paruhmu
Yang diam- diam melihat sayapmu
Dan hanya bisa menghitung hari- hari sendu
Tuk sekedar mengharapkanmu berbalik melihatku
Akulah kancil yang slalu bersembunyi dibalik semak
Berharap elang terbang disampingnya
Atau bahkan hinggap di dahan dekat tempatnya
Beriringan..
Namun apa daya si kancil tercipta untuk kelamahan
Dan sang elang tercipta untuk kekuatan
Beginilah adanya perbedaan
Alam terlalu jauh memisahkan
Demi keagunganmu...
Biarlah matahari yang sinari pagimu
Biarlah angin yang temani perjalanan hidupmu
Dan biarlah bintang yang menjaga istirahatmu
Demi keperkasaanmu...
Biarlah si kancil bersembunyi
Biarlah si kancil berteman sepi
Dan biarlah hanya menghujat doa dalam hati
Tatap mata menghujam, menyelidik, menerawang
Beradu pandang dengan rumitnya kehidupan
Kepak sayap keras, kokoh, menggelegar
Menantang setiap jiwa lemah untuk kembali tegar
Cengkraman erat, kuat, mencekam
Menarik setiap hati tuk bangkit dari masa yang suram
"Kepakkan sayapmu, tajamkan matamu, acungkan paruhmu, kuatkan cengkramanmu. Lawan setiap badai yang datang, lewati setiap aral yang melintang. Aku bangga padamu. Kamulah Elangku."
Dari kancil untuk elang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar