Selamat malam wahai para pemuja rahasia yang tak pernah lelah mengharap cintanya. Selamat malam para pejuang cinta, yang tak pernah letih mencari belahan hatinya. Selamat malam pada pemilik hati yang tak henti berdoa pada Sang Kuasa mempertahankan kasihnya.
Selamat malam juga untukku...
Yang tengah duduk terdiam di kesunyian malam.
Menatap langit yang seolah enggan berbicara.
Entah mengapa ia diam membisu seribu bahasa.
Seakan akan ia juga rasa apa yang kurasa.
Dibawah hamparan gelap luas yang bertabur bintang.
Menatap satu bintang yang paling terang dengan penuh harapan.
Bagai sepasang mata tengah melihat cintanya,
Yang kini menjauh seakan ingin menghilang..
Haruskah air mata ini mengalir setiap waktu?
Haruskah kuhentikan detak jantungku untuk merindukanmu?
Haruskah kulenyapkan denyut nadiku demi memilikimu?
Dan haruskah nyawa ini terpisah dari ragaku karena cintamu?
Diri ini seperti kehilangan kaki
Tak mau beranjak pergi,
Tak ingin diajak berlari,
Karna tak tau lagi dimana letak hati
Mati rasaku,
Remuk jiwaku,
Terhempas sudah cintaku,
Tersandung cerita di masa lalumu.
Aku dan senyumku, berdua meronta.
Hanya bisa membaca aksara yang kau rangkai penuh makna.
Aku dan penantianku, bersama berdoa.
Namun hanya bisa mengenangmu dalam duka.
Tak seperti malam, di malam kemarin. Ketika senyum dan tawa selalu menjadi bagian dari cerita. Saat sejuta mimpi, angan serta harapan dipadu menjadi satu. Tentang ku dan tentangmu; tanpa tentangnya.
Kepadamu wahai pemilik hatiku, yang kini terombang ambing cintanya. Yang tengah bergemelut hatinya. Setidaknya kau dengar sedikit bisik cintaku, sedikit rintihan tangisku. Mengharapkanmu, datang padaku. Memeluk hatiku merangkul kasihku. Lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar